Mendaki gunung lewati lembah, hal ini mengibaratkan perjalanan kami dalam ekspedisi pantai kali ini. Perjalanan yang panjang dan menantang menjadi daya tarik pantai yang cocok dikunjungi oleh jiwa-jiwa petualang. Clungup yang kami jadikan destinasi wisata Tim Pernik adalah salah satu pantai yang berada di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Garis pantainya memang masih
sederet dengan pantai Sendang Biru, tetapi keindahan pantainya masihsangat alami meskipun tidak seterkenal dan sepopuler pantai-pantai lain di Malang Selatan. Akan tetapi, perjalanan yang melelahkan itu kemudian dapat terbayar setelah menemukan “Si Cantik yang Tersembunyi” sebutan yang kami juluki untuk Pantai Clungup nan indah. Katanya, Tempat ini adalah Raja Ampatnya Malang sih, bagaimana keeksotisan pantai ini? Berikut reportase perjalanan Tim Pernik Bestari dalam menelusuri ke mana arah bisikan dari angin pantai yang tersembunyi.
Persiapan berupa perbekalan baik makanan, tenaga, energi dan pikiran telah disiapkan. Tepat pukul 06.30 WIB kami pun bergegas menuju pantai Clungup. Akses perjalanan yang cukup panjang memakan banyak waktu, namun hal itu sama sekali tidak menyurutkan semangat kami. Pukul 10.00 WIB kami tiba di lokasi Pantai Goa Cina. Awalnya, menurut informasi yang kami peroleh, untuk dapat menuju Pantai Clungup, kami cukup berjalan kaki kurang lebih selama 30 menit ke arah timur dari Pantai Goa Cina.
‘’Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui’’ rasanya peribahasa tersebut cukup mewakili perjalanan kami di akhir pekan ini. Dengan langkah pasti kami melewati Goa Cina dan menyusuri jalan makadam. Lantaran harus berjalan kaki ke arah Pantai Clungup, kami pun meninggalkan sepeda motor di parkiran Pantai Goa Cina. Namun, di tengah perjalanan kami mendapat arahan dari petugas penjagaan di perbatasan Pantai Goa Cina untuk berbalik arah. Yutira, selaku petugas yang tergabung dalam Kelompok Bakti Alam Sendang Biru memberikan penjelasan kepada kami, bahwa sebenarnya pantai Clungup berada di Pantai Sendang Biru. Akses melalui Pantai Goa Cina tidak diperkenankan karena dianggap ilegal dan sangatlah berbahaya. Selain itu dikhawtirkan dengan adanya tracking justru menyebabkan lahan konservasi di Clungup menjadi rusak kembali.
Berbalik Arah Menuju TPI, Meraba Jalan ke Pantai Clungup
Sedikit mengantongi kekecewaan, tepat pukul 12.00 WIB kami melanjutkan perjalanan, berharap rasa lelah ini bisa tergantikan dengan panorama ciptaan Sang Pencipta yang menakjubkan. Dengan sisa-sisa semangat kami meraba-raba tujuan menuju Pantai Clungup. Kami berbelok ke arah yang menunjuk ke Tempat Pelelanggan (TPI) Ikan.
Sesampai di persimpangan kami berbelok ke jalanan sempit di antara rerumahan warga yang hanya dapat dilalui menggunakan kendaraan beroda dua atau berjalan kaki. Pengendara juga harus ekstra hati-hati, karena jalannya memang benar-benar berliku. Jalan ini hanya dapat dilalui jika cuaca tidak sedang atau baru dihujani. Jalan setapak yang berliku justru diungkapkan Yusuf Irawan Purwantara, seorang pengunjung yang masih duduk di bangku Sekolah Menegah Atas (SMA) sangat menarik. “Jalanan menuju pantai yang seperti itu malah sangat menarik. Tetapi tak apa-apa, semuanya akan terbayar kok nanti dengan view pantainya,” paparnya.
Persiapan berupa perbekalan baik makanan, tenaga, energi dan pikiran telah disiapkan. Tepat pukul 06.30 WIB kami pun bergegas menuju pantai Clungup. Akses perjalanan yang cukup panjang memakan banyak waktu, namun hal itu sama sekali tidak menyurutkan semangat kami. Pukul 10.00 WIB kami tiba di lokasi Pantai Goa Cina. Awalnya, menurut informasi yang kami peroleh, untuk dapat menuju Pantai Clungup, kami cukup berjalan kaki kurang lebih selama 30 menit ke arah timur dari Pantai Goa Cina.
‘’Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui’’ rasanya peribahasa tersebut cukup mewakili perjalanan kami di akhir pekan ini. Dengan langkah pasti kami melewati Goa Cina dan menyusuri jalan makadam. Lantaran harus berjalan kaki ke arah Pantai Clungup, kami pun meninggalkan sepeda motor di parkiran Pantai Goa Cina. Namun, di tengah perjalanan kami mendapat arahan dari petugas penjagaan di perbatasan Pantai Goa Cina untuk berbalik arah. Yutira, selaku petugas yang tergabung dalam Kelompok Bakti Alam Sendang Biru memberikan penjelasan kepada kami, bahwa sebenarnya pantai Clungup berada di Pantai Sendang Biru. Akses melalui Pantai Goa Cina tidak diperkenankan karena dianggap ilegal dan sangatlah berbahaya. Selain itu dikhawtirkan dengan adanya tracking justru menyebabkan lahan konservasi di Clungup menjadi rusak kembali.
Berbalik Arah Menuju TPI, Meraba Jalan ke Pantai Clungup
Sedikit mengantongi kekecewaan, tepat pukul 12.00 WIB kami melanjutkan perjalanan, berharap rasa lelah ini bisa tergantikan dengan panorama ciptaan Sang Pencipta yang menakjubkan. Dengan sisa-sisa semangat kami meraba-raba tujuan menuju Pantai Clungup. Kami berbelok ke arah yang menunjuk ke Tempat Pelelanggan (TPI) Ikan.
Sesampai di persimpangan kami berbelok ke jalanan sempit di antara rerumahan warga yang hanya dapat dilalui menggunakan kendaraan beroda dua atau berjalan kaki. Pengendara juga harus ekstra hati-hati, karena jalannya memang benar-benar berliku. Jalan ini hanya dapat dilalui jika cuaca tidak sedang atau baru dihujani. Jalan setapak yang berliku justru diungkapkan Yusuf Irawan Purwantara, seorang pengunjung yang masih duduk di bangku Sekolah Menegah Atas (SMA) sangat menarik. “Jalanan menuju pantai yang seperti itu malah sangat menarik. Tetapi tak apa-apa, semuanya akan terbayar kok nanti dengan view pantainya,” paparnya.
Bisikan Semilir Angin dari Surga Tersembunyi, Ekowisata Pantai Clungup
Sebelum sampai ke bibir pantai, lagi-lagi harus berjalan menaiki bukit dan semak-semak ala hutan. Dari atas bukit, pantai sudah terlihat sama-samar. Akan tetapi, ketika menuruni bukit kita harus melewati tumbuhan-tumbuhan bakau. Karena air lagi pasang, saat itu kita harus berjalan di kedalaman air yang tingginya sekitar 10 cm.
Sampai sudah dari perjalanan yang menakjubkan. Malang Selatan, nama kota ini sangat dikenal dengan destinasi wisata pantainya yang konon dikabarkan memiliki pemandangan yang siap memukau siapa saja pengunjungnya, Pantai Clungup salah satunya. Pantai ini masih sangat jarang dikunjungi wisatawan untuk berlibur. Banyak cerita masyarakat sekitar yang beredar mengungkapkan bahwa pantai ini seram dan angker. Namun terlepas dari desas-desus tersebut, pantai ini adalah pantai yang ibaratnya bagai harta karun terpendam.
Wah!!! Memang benar-benar tidak mengecewakan, perjalanan yang melelahkan itu seoalah tersulap dengan decak kagum atas hamparan panorama dan semilir angin yang membawa nuansa rileksasi. Kicauan burung-burung yang khas menambah suasana alami pantai. Keeksotisan Pantai Clungup tidak bisa dilewatkan begitu saja tanpa momen berharga. Sungguh cantik, pasir putih yang terhampar di sepanjang mata serta air yang tenang itu membuat kami ingin merebahkan diri di tepiannya.
Konsep yang disuguhkan oleh pantai Clungup ini bukanlah wisata untuk rekreasi seperti pantai-pantai tersohor lainya, lebih tepatnya adalah ekowisata. Pantai ini dijadikan tempat konservasi tanaman mangrove. Untuk perijinan memasuki lokasi pantai dikenakan biaya kontribusi sebesar 6.000 rupiah per orang tanpa biaya tambahan parkir.
Galih Hadi anggota Pasukan Pengaman Masyarakat (PAM) pantai wisata mengatakan, Clungup memiliki potensi wisata yang tidak dimiliki oleh pantai lainnya. Perbedaannya, pantai dilindungi oleh pulau-pulau kecil sehingga pantai tersebut ombaknya tidak terlalu besar sehingga pengunjung bisa berenang dengan aman, Selain itu banyak bebatuaan dan terumbu karang yang elok. Yusuf juga menyuarakan hal yang sama, pengunjung Pantai Clungup bersama dua rekannya itu mengatakan tertarik datang karena ingin melihat pemandangan Pantai Clungup yang sangat bersih dan indah secara nyata.
Suatu yang mengejutkan lagi, ternyata para pengelolah pantai Clugup merahasiakan harta karun yang menakjubkan dibalik pantai tersembunyi itu. Dwi Adi Yulianto, anggota Kelompok Bakti Alam mengungkapkan bahwa Pantai Clungup bukan hanya terdiri dari satu pantai saja, melainkan beberapa pantai yang menjadi kesatuan. Pantai ini terdiri dari delapan pantai yang tersebar di sepanjang garis Pantai Clungup. Di antaranya adalah Pantai Clungup, Pantai Bangsong, Pantai Teluk Asmoro, Pantai Gatra, Pantai Savana, Pantai Mini, Pantai Tiga Warna, dan Pantai Gunung waren.
Untuk dapat menyusuri delapan pantai ini, kita dapat menyewa seorang Guide Tour untuk melakukan tracking. Cukup membayar sebesar 50 ribu rupiah kita sudah bisa menikmati perjalanan selama seharian. Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pantai terakhir atau Pantai Tiga Warna sekitar satu setengah jam. Di pantai terakhir kita dapat bersnorkeling untuk mengamati keindahan biota bawah lautnya. Pengelola pantai juga menyediakan perlengkapan snorkeling yang dapat disewa dengan harga 15 ribu rupiah.
Pantai ini disebut tiga warna karena jika dilihat melalui bibir pantai, lautnya terdiri dari tiga lapisan warna. Warna pertama yang paling dekat bibir pantai agak kecoklatan, di tengahnya kemudian hijau dan semakin ke tengahnya lagi airnya berwarna biru. Bahkan sangking indahnya Pantai Clungup yang terdiri dari banyak pulau-pulau kecil ini disebut-sebut sebagai Raja Ampatnya Malang.
#faj/sih/m_mah/uqi


Tidak ada komentar:
Posting Komentar