Jarum jam baru menunjukkan
pukul enam pagi, ketika Tim Pernik Bestari berangkat menuju Pantai
Tamban. Kami mengendarai motor ke arah selatan Malang, tepatnya
menuju Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Setelah menempuh jarak
sekitar 65 kilometer, terdapat gapura bertuliskan Desa
Tambakrejo.
Memasuki Desa Tambakrejo, medan yang dilalui berupa jalan yang
berkelok-kelok, dengan hamparan perbukitan dan ladang di sekitarnya.
Tidak seperti beberapa pantai lainnya di Malang yang dapat dijangkau
setelah melewati bebatuan makadam, maka medan menuju Pantai
Tamban ini tidak menemui banyak rintangan. Alhasil, jarak tempuh hanya
memakan waktu sekitar dua jam. Hanya dengan tiket masuk seharga
3000 rupiah, kami bisa menikmati keindahan panorama Pantai Tamban
dengan leluasa.
Asal Mula Nama Tamban
Dari mulut Kepala Desa
Tambakrejo, yakni Suhardi, mengalirlah cerita tentang sejarah nama
Pantai Tamban. Ia mengisahkan, ketika Desa Tambakrejo masih berupa
hutan dan rawa-rawa, ada rombongan orang yang datang untuk membabat
hutan. Ketika proses babat hutan berlangsung, rombongan
tersebut merasa kehausan hingga jatuh sakit karena tidak ada
sumber air yang bisa diminum. Akhirnya mereka memutuskan untuk
mencari sumber air yang terdekat, dan justru menemukan sebuah
pantai dan segera meminum airnya. Air dari pantai tersebut memiliki
rasa yang berbeda. Sampai salah satu dari mereka berkata bahwa air dari
tempat tersebut lebih segar dan nikmat serta menyebut air tersebut
Banyu Tombo Ngelak. Dalam bahasa Indonesia artinya air penghilang
rasa haus. ”Dari situlah kata Tamban berasal, karena bisa mengobati
penyakit dan pelepas dahaga. Oleh karena itu, sampai sekarang desa
tersebut diberi nama Tamban, dan sumber airnya menjadi Pantai
Tamban,” ujar Suhardi.
Kedung Ijo dan Watu Jaran, Ciri Khas Pantai Tamban
Pantai Tamban juga
memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah adanya sebuah
muara besar yang terletak di timur pantai. Warga setempat
menyebutnya Kedung Ijo. Kedung sendiri menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) berarti lubuk atau bagian yang dalam dari laut.
Meskipun tersemat kata ‘ijo’ di belakangnya, tetapi warna air
tersebut bening dan terasa segar.
Konon, Kedung Ijo dulunya merupakan habitat buaya. Hal tersebut
dituturkan oleh Adi Sukani, pengelola Pantai Tamban. “Dulunya di
Kedung Ijo itu banyak buaya, tapi sekarang sudah tidak ada lagi,”
ungkapnya. Adi menambahkan, di sekitar pantai terdapat batu-batu
besar yang seukuran kambing. Terdapat pula batu yang
menyerupai kuda dan luwak. Oleh sebab itu, warga setempat
menyebutnya Watu Jaran dan Watu Luwak, dalam bahasa Jawa, watu
berarti batu, sedangkan jaran berarti kuda.
Menurut Adi, momen-momen melihat kedua watu tersebut sangatlah
langka, karena tidak dapat diprediksikan kapan air laut surut.
“Kalau sekarang ombaknya sedang pasang, bentuk batunya tidak
kelihatan. Kalau mau harus menunggu sampai pukul satu siang, itu pun
juga belum pasti,” ucapnya. Sayangnya, Tim Pernik Bestari belum
berhasil menemukan kedua watu tersebut sebab ombak tidak juga
surut.
Sementara itu, sekitar lima meter dari muara, terdapat sebuah
kolam besar. Uniknya, meskipun kolam ini menyatu dengan perairan
di pantai Tamban, tetapi rasa airnya tawar. Kolam ini bisa menjadi
area berenang bagi para pengunjung sebab airnya yang bening dan
segar.
#vio/p_lou


Tidak ada komentar:
Posting Komentar